RAHASIA TIGA MESIN EKONOMI INDONESIA: PESAN MENKEU PURBAYA DI DIES NATALIS UNAIR

Ekonomi, Fokus, Pendidikan425 Dilihat

 

Di tengah semarak peringatan Dies Natalis ke-71 Universitas Airlangga (Unair), sivitas akademika mendapat wejangan strategis langsung dari pemangku kebijakan fiskal tertinggi. Bertempat di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C, Surabaya, pada Senin (10/11/2025), Menteri Keuangan (Menkeu) Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, MSc., PhD., menyampaikan Studium Generale yang mengupas tuntas kunci percepatan dan stabilitas ekonomi nasional.

Kegiatan akademik ini menegaskan peran kampus sebagai wadah pertukaran wawasan strategis, menghadirkan Menkeu Purbaya untuk memaparkan pandangan makroekonominya di hadapan para akademisi dan mahasiswa.

Dalam pemaparannya yang renyah, Menkeu Purbaya menekankan sebuah formula sederhana namun fundamental untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkelanjutan. Ia menyebutkan ada tiga mesin utama yang wajib bergerak secara seimbang dan simultan:

1. Kebijakan Fiskal (Pengeluaran dan Pendapatan Pemerintah)
2. Kebijakan Moneter (Suku Bunga dan Likuiditas Bank Sentral)
3. Sektor Privat (Private Sector) (Investasi dan Konsumsi Swasta)

“Ekonomi kita akan cepat kalau tiga mesin jalan, yakni fiskal, moneter, dan private sector,” kata Purbaya. Ia lantas memberi penekanan tegas, “Jika dua itu jalan, tapi privat sektor tidak jalan, maka akan susah.”

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa upaya pemerintah melalui stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif akan menjadi sia-sia tanpa adanya gairah dan keberanian dari sektor swasta untuk berinvestasi dan berproduksi.

Di tengah gejolak global yang tak pernah usai, Purbaya menyoroti betapa krusialnya penguatan permintaan domestik sebagai benteng ketahanan ekonomi Indonesia. Konsumsi dalam negeri yang kuat menjadi jangkar yang menjaga kapal ekonomi tetap stabil saat badai global menerpa.

Lebih lanjut, ia memberikan perspektif yang berbeda dalam membaca kondisi perekonomian. Menurutnya, kondisi makro tidak cukup hanya dilihat dari pergerakan suku bunga, tetapi juga dari pertumbuhan uang beredar.

Purbaya mengenang pengamatannya selama lebih dari dua dekade, di mana respons kebijakan yang tepat berhasil menjaga stabilitas nasional, mencontohkan keberhasilan Indonesia melewati krisis global 2008—saat itu, nilai Rupiah justru menguat meski suku bunga diturunkan.

“Dalam lebih dari 25 tahun saya mengamati ekonomi, kita bisa tumbuh di atas delapan persen dalam jangka panjang asalkan kebijakan fiskal, moneter, dan iklim investasi dijalankan dengan benar,” pungkasnya.

Menurut Menkeu Purbaya, konsistensi kebijakan dan kehati-hatian fiskal adalah landasan penting untuk mencapai target pertumbuhan di tahun-tahun mendatang.

Usai sesi pemaparan, Purbaya pun menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme mahasiswa Unair. “Dari antusiasme mahasiswa, ada yang duduk depan. Artinya mereka tahu bahwa apa yang disampaikan bisa mereka terima,” tuturnya, menandakan bahwa wawasan strategis ini telah tersampaikan dengan baik kepada generasi penerus bangsa.

Studium Generale di Unair ini menjadi momentum refleksi bahwa percepatan ekonomi Indonesia di masa depan bergantung pada harmonisasi kebijakan serta peran aktif dari seluruh elemen, terutama sektor swasta dan kebijakan yang berlandaskan prinsip kehati-hatian.

#MenkeuPurbaya #Unair #DiesNatalis71 #TigaMesinEkonomi #KebijakanFiskal #SektorPrivat #EkonomiIndonesia #StudiumGenerale