BRI Super League 2025/26 tengah jeda kompetisi setelah menyelesaikan pekan ke-7, namun Persebaya Surabaya masih menghadapi persoalan klasik: lini depan yang seret gol. Dari tujuh laga, Bajul Ijo hanya mencetak delapan gol—angka yang jauh dari ekspektasi tim sebesar Persebaya.
Kontribusi gol masih didominasi Bruno Moreira (3 gol), disusul Francisco Rivera (2 gol), sementara striker anyar Mihailo Perovic baru menyumbang satu gol. Sisanya datang dari pemain lain. Padahal, Perovic yang direkrut awal musim dari FK Jezero (Montenegro) diharapkan jadi solusi tumpulnya serangan.
Musim lalu, Perovic tampil garang dengan torehan 16 gol dari 35 laga di Montenegro. Namun di Indonesia, ia justru kesulitan beradaptasi. Cuaca tropis, gaya main liga yang keras dan cepat, plus tekanan besar dari Bonek, membuat performanya masih jauh dari standar.
“Tidak mudah bermain di sini. Kualitas liga ternyata sangat bagus, jauh lebih ketat dari yang saya bayangkan,” ujar Perovic, 28 tahun. “Saya perlu meningkatkan diri agar bisa menunjukkan lebih banyak kepada para penggemar. Kami tahu apa yang harus dilakukan, dan kami akan berusaha lebih baik lagi.”
Perovic bukan pemain sembarangan. Ia pernah merumput bersama tujuh klub Eropa, termasuk Zorya Lugansk (Ukraina) dan NK Olimpija Ljubljana (Slovenia). Di level timnas, ia sempat jadi andalan Montenegro U17 hingga U21. Catatan itu membuat ekspektasi publik kian besar: Perovic mesti segera meledak.
Pelatih Eduardo Perez mencoba meredam sorotan. Baginya, kontribusi Perovic tak semata soal jumlah gol. “Mihailo pemain yang sangat penting. Banyak transisi dan peluang lahir dari kemampuannya mengontrol bola. Saya percaya 100 persen kepadanya,” kata pelatih asal Spanyol itu.
Bonek jelas menunggu lebih. Gol adalah mata uang paling sahih bagi striker, dan sejauh ini Perovic masih menabung janji. Pertanyaan besarnya: apakah jeda kompetisi ini cukup untuk mengasah ketajamannya, atau justru jadi alarm bahaya bagi Persebaya?












