Di tengah gelombang demonstrasi yang belakangan kerap berujung ricuh, Jusuf Kalla mengingatkan kembali fungsi masjid. Bagi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu, masjid tak sekadar rumah ibadah, melainkan benteng sosial yang bisa meredam gejolak.
“Kalau demo besar-besaran berubah anarkis, masjid harus bisa jadi corong negara. Ia mesti menjaga hukum, menenteramkan umat, dan melindungi tatanan sosial,” kata JK seusai melantik Pengurus Wilayah DMI Jawa Timur.
Ia menekankan, menara masjid bukan hanya tempat kumandang azan. Pengurus dan jamaah diminta proaktif menjaga keamanan lingkungan, menenangkan massa, hingga ikut mengawal rasa keadilan di masyarakat. “Masjid jangan hanya jadi tempat salat. Ia harus memakmurkan dan dimakmurkan jamaah,” ujarnya.
JK tak menampik bahwa demonstrasi adalah hak demokratis. Tapi begitu berubah jadi anarki, merusak fasilitas umum, atau membakar kendaraan, ia menyebut itu “masalah baru” yang justru menjauhkan aspirasi dari solusi.
Dalam pidatonya, ia menegaskan kembali tiga pilar pemakmuran masjid: pendiri, pengurus, dan jamaah. Ketiganya, menurut JK, harus bersinergi untuk menjadikan masjid bukan hanya pusat ibadah, melainkan motor kemajuan.
“Tanpa kemajuan, kita ketinggalan. Dengan kemajuan, kita bisa memberi lebih banyak bagi bangsa ini,” tegasnya. ***








