TRUMP UMUMKAN TARIF RENDAH UNTUK RI, INDONESIA SAH MENJADI MITRA STRATEGIS AS

Di tengah riuh eskalasi perang dagang global, Indonesia justru mendapat angin segar dari Washington. Dalam pernyataan mengejutkan lewat media sosial pribadinya, Social Truth, Senin malam (15/7/2025), mantan Presiden sekaligus kandidat terkuat Presiden AS 2024, Donald Trump, mengumumkan bahwa Amerika Serikat resmi menjalin kesepakatan dagang strategis dengan Indonesia.

Poin paling mencolok: tarif bea masuk produk Indonesia ke AS ditetapkan hanya sebesar 19 persen—jauh lebih rendah dari skema awal 32 persen, dan bahkan lebih kompetitif dibanding tarif terhadap Vietnam (20–40 persen), Malaysia (25 persen), dan Thailand (36 persen).

Kesepakatan ini menandai langkah maju penting dalam hubungan dagang bilateral. Namun menurut Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, esensinya bukan hanya pada angka. “Yang penting bukan cuma 19 persen, tapi pernyataan eksplisit dari AS tentang posisi strategis Indonesia. Kita diakui karena punya rare earth minerals, tembaga, dan sumber daya strategis lain yang dunia butuhkan,” kata Fakhrul kepada InfoPublik, Rabu (16/7/2025).

Kesepakatan juga disertai komitmen pembelian 50 pesawat Boeing oleh Indonesia, serta kerja sama lanjutan di sektor energi dan pertanian. Tapi di balik angka dan kontrak, yang paling strategis adalah pengakuan resmi AS atas peran Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis—komoditas yang menopang masa depan kendaraan listrik, energi hijau, dan industri teknologi tinggi.

Fakhrul menyebut perbedaan tarif yang mencolok ini bisa dimanfaatkan sebagai alat tawar utama dalam kompetisi menarik investasi asing. “Potensi masuknya investasi sebesar USD 200–300 juta dalam 1–2 tahun ke depan bisa terwujud, terutama ke sektor manufaktur ekspor dan kawasan industri yang tengah berkembang,” jelasnya.

Namun momentum ini, ujarnya, hanya akan berdampak jika ditopang kebijakan dalam negeri yang responsif. Ia menyoroti perlunya Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat. Dengan inflasi yang terkendali di level 1,87 persen dan rupiah yang cenderung menguat, ruang pelonggaran moneter dinilai cukup terbuka.

“India dan Malaysia sudah menurunkan suku bunga. Kalau BI memangkas 25 basis poin hari ini, itu sinyal kuat bahwa Indonesia serius ingin mendorong pemulihan ekonomi dan menarik modal asing,” ujarnya.

Fakhrul memproyeksikan bahwa kombinasi pelonggaran moneter, peningkatan belanja pemerintah, dan momentum dagang baru ini dapat mendorong penguatan rupiah hingga ke Rp15.500 per dolar AS di akhir 2025. Ia juga optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menembus 7.750, didorong sektor unggulan seperti logam strategis (nikel, tembaga, aluminium) dan sektor konsumsi yang diperkirakan rebound seiring meningkatnya daya beli.

“Sudah lebih banyak upside daripada downside untuk pasar Indonesia tahun ini. Tapi semua tergantung eksekusi kebijakan,” tegasnya.

Kesepakatan dagang ini membuka babak baru bagi Indonesia. Tarif rendah hanyalah pelumas; kepercayaan strategis dari AS adalah bahan bakar jangka panjang. Namun untuk benar-benar melaju, Indonesia memerlukan tiga hal kunci: kecepatan respons moneter dari BI, konsistensi fiskal dan eksekusi proyek nasional, serta ketegasan dalam strategi hilirisasi industri.

“Ruang kesempatan seperti ini tidak pernah terbuka lama. Dunia sedang mencari mitra baru. Indonesia punya bahan mentah dan sekarang juga punya momentum. Jangan disia-siakan,” pungkas Fakhrul.

News Feed