PETERNAKAN PALING ANEH DI CHINA: DARI ULAT SUTRA SAMPAI KECOA GEDUNG

Fokus, Gaya Hidup1123 Dilihat

Bayangkan sebuah bangunan tinggi di pinggiran kota Chengdu. Di dalamnya, bukan kantor startup teknologi atau gudang logistik, melainkan rumah bagi jutaan kecoa. Begitulah salah satu wajah industri peternakan paling nyeleneh di China — negeri yang sanggup membudidayakan apa saja, mulai dari ulat penghasil sutra hingga lipan raksasa penawar racun.

Bagi orang luar, praktik ini sering memancing rasa heran, geli, bahkan jijik. Namun bagi sebagian orang China, inilah tradisi dan sumber penghidupan. Berikut sepuluh di antaranya yang paling bikin geleng-geleng kepala.

1. Ulat Sutra: Benang Emas dari Kepompong

Di provinsi Zhejiang dan Jiangsu, ulat sutra dipelihara berkoloni. Setiap ekor makan daun murbei segar, lalu membungkus diri dalam kokon halus yang kelak dipintal jadi kain sutra mewah. Peternakan ini diwariskan lintas generasi — dari dinasti ke dinasti — dan hingga kini menopang ekspor sutra China ke seluruh dunia.

2. Lipan Raksasa: Racun Penawar Racun

Di beberapa desa, orang memelihara lipan sebesar jari orang dewasa. Lipan ini tak hanya jadi ‘obat jalanan’ tapi juga bahan baku laboratorium farmasi. Racunnya diekstrak, diklaim ampuh untuk mengobati radang parah hingga gigitan ular berbisa.

3. Katak Bullfrog: Primadona Hotpot

Di restoran hotpot China, katak bukan sekadar lauk eksotis. Peternakan katak bullfrog tersebar di Guangdong, Hunan, dan Chongqing. Dagingnya putih lembut, mirip ayam, tetapi lebih manis dan rendah lemak.

4. Ular Piton Hingga Kobra: Dari Sup Hingga Anggur

Jiangsu punya reputasi sebagai kampung ular. Ribuan ular dipelihara dalam sangkar bambu dan drum plastik. Beberapa dipanen untuk sup ular, sebagian lagi difermentasi dalam guci anggur — konon berkhasiat untuk menghangatkan badan dan menguatkan stamina.

5. Tikus Bambu: Delikatesa Selatan

Di provinsi Guangxi dan sekitarnya, tikus bambu menjadi panganan bernilai ekonomi tinggi. Peternakan tikus ini sering viral karena bentuknya menggemaskan namun berakhir di wajan restoran lokal. Rasanya? Para penikmat menyebutnya gurih dan manis, serupa daging kelinci.

6. Kecoa Gedung Bertingkat

Beberapa perusahaan di Shandong memelihara kecoa dalam bangunan bertingkat tertutup, dengan suhu hangat dan makanan organik sisa dapur. Kecoa dipanen untuk diolah menjadi obat herbal, bahan kosmetik, bahkan pakan ternak.

7. Rusa Sika: Emas Beludru dari Hutan

Di China utara, peternakan rusa sika menghasilkan tanduk beludru (antler velvet) yang dipercaya sebagai tonik herbal penambah vitalitas. Tiap tahun, tanduk muda dipotong sebelum mengeras. Praktik ini sudah dijaga ketat agar tidak menyakiti hewan.

8. Anjing Pedesaan (Kontroversial)

Meski kini kian ditinggalkan, beberapa desa pedalaman masih memelihara anjing untuk daging. Festival daging anjing di Yulin pernah jadi sorotan dunia. Pemerintah pun perlahan membatasi praktik ini demi kesejahteraan hewan dan citra internasional.

9. Kura-Kura Lunak untuk Sup Herbal

Peternakan kura-kura lunak (soft-shell turtle) cukup lazim di kawasan selatan. Hewan ini diyakini berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh. Sup kura-kura hangat lazim disajikan di restoran herbal dan rumah makan tradisional.

10. Siput dan Lintah: Pahlawan Lendir

Siput air tawar dipelihara untuk lendirnya yang diekstrak jadi bahan krim kecantikan. Lintah air juga dipanen untuk zat antikoagulan (pengencer darah). Peternak menjual hasil panen ke pabrik farmasi di dalam dan luar negeri.

Antara Tradisi, Ekonomi, dan Etika

Di balik keunikan peternakan-peternakan ini, tersimpan dilema: mempertahankan tradisi sekaligus menyesuaikan dengan tuntutan etika modern. Beberapa praktik memang sudah diawasi ketat oleh pemerintah China, sebagian lain berangsur ditinggalkan. Yang jelas, di negeri Tirai Bambu, apa pun bisa dibudidayakan — asal ada nilai guna dan pasar yang siap menampung.