Harapan Indonesia untuk mengakhiri paceklik gelar di turnamen bulu tangkis BWF World Tour Super 1000 Indonesia Open kembali pupus. Satu-satunya wakil Merah Putih di partai final, pasangan ganda putra Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani, harus mengakui keunggulan pasangan Korea Selatan, Kim Won Ho dan Seo Seung Jae, dalam pertandingan tiga gim yang digelar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Minggu (8/6).
Sabar/Reza sejatinya membuka laga dengan meyakinkan, unggul 21-18 di gim pertama berkat permainan agresif dan dukungan penuh dari penonton tuan rumah. Namun, performa mereka mulai menurun di gim kedua. Kim/Seo, pasangan unggulan kelima, tampil lebih solid dan konsisten dalam reli-reli panjang. Mereka berhasil mencuri gim kedua dengan skor 21-19, sebelum menutup laga dengan kemenangan telak 21-12 di gim penentuan.
“Kami sudah berusaha maksimal, terutama di gim pertama. Tapi di gim kedua dan ketiga kami kehilangan fokus dan banyak mati sendiri,” ujar Reza seusai pertandingan. “Korea bermain sangat tenang dan sabar, dan kami gagal keluar dari tekanan.”
Kekalahan ini memperpanjang penantian Indonesia untuk kembali meraih gelar di turnamen kandang tersebut. Terakhir kali Merah Putih naik podium juara di Indonesia Open adalah pada tahun 2021, saat Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo menjuarai sektor ganda putra.
Kegagalan Empat Tahun Beruntun
Sejak kemenangan Marcus/Kevin empat tahun lalu, Indonesia belum lagi mencicipi gelar di ajang Super 1000 ini. Pada 2022 hingga 2024, sejumlah pasangan unggulan Indonesia gagal melangkah ke babak final. Tahun ini, harapan sempat membuncah setelah Sabar/Reza melaju ke final dengan performa meyakinkan, termasuk kemenangan atas pasangan unggulan asal Jepang dan Denmark di babak-babak sebelumnya.
Namun harapan itu harus pupus oleh permainan disiplin Kim/Seo, yang menunjukkan konsistensi luar biasa sepanjang turnamen. Pasangan Korea Selatan itu juga sebelumnya menumbangkan ganda putra nomor satu Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, di babak semifinal dengan permainan yang sengit dan penuh tekanan.
“Kim dan Seo sedang dalam performa puncak. Mereka berhasil membaca pola permainan Fajar/Rian dan juga Sabar/Reza. Ini menjadi catatan penting bagi pelatih dan PBSI untuk mengevaluasi,” ujar pengamat bulu tangkis nasional, Arya Saputra.
Evaluasi dan Tantangan Ganda Putra
Sektor ganda putra selama ini menjadi andalan Indonesia di kancah internasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir, performa sektor ini dinilai kurang konsisten, terlebih dengan menurunnya performa pasangan-pasangan unggulan seperti Hendra/Ahsan dan Fajar/Rian. Di sisi lain, pasangan pelapis seperti Sabar/Reza, Bagas/Fikri, dan Leo/Daniel masih dalam tahap adaptasi di level tertinggi.
Pelatih kepala ganda putra PBSI, Herry Iman Pierngadi, mengakui bahwa regenerasi memang sedang dalam proses, dan hasil di Indonesia Open 2025 menjadi refleksi penting. “Kami bersyukur Sabar/Reza bisa tembus final, ini langkah maju. Tapi tentu banyak evaluasi dari sisi mental bertanding dan konsistensi saat unggul,” ujarnya.
Menurut Herry, performa apik Sabar/Reza di gim pertama seharusnya bisa dijaga. Namun tekanan permainan lawan dan beban sebagai satu-satunya wakil Indonesia di final ikut memengaruhi stabilitas permainan mereka.
“Kita harus bangkit dan belajar dari kekalahan ini. Persaingan di ganda putra dunia semakin ketat. Tidak bisa hanya mengandalkan power dan speed, tapi juga strategi dan ketahanan mental,” tegas Herry.
Antusiasme Penonton Tak Surut
Meskipun Indonesia kembali gagal membawa pulang gelar, atmosfer pertandingan final tetap bergemuruh. Istora Senayan dipenuhi ribuan suporter yang datang dari berbagai daerah. Dukungan penuh diberikan sejak awal laga dengan yel-yel khas dan iringan tabuhan drum.
“Sabar dan Reza sudah bermain bagus, kami tetap bangga,” ujar Dwi Larasati, salah satu penonton asal Bekasi. “Semoga tahun depan Indonesia bisa juara lagi.”
BWF Indonesia Open 2025 juga mencatat antusiasme tinggi dari segi penonton maupun penjualan tiket. Tiket final habis terjual sejak tiga hari sebelum pertandingan, menandakan masih tingginya animo masyarakat terhadap bulu tangkis nasional meski hasil belum sesuai harapan.
Penantian Berlanjut
Dengan hasil ini, Indonesia harus kembali menanti setidaknya satu tahun lagi untuk bisa kembali berjaya di kandang sendiri. Indonesia Open, yang merupakan salah satu dari tiga turnamen Super 1000 di kalender BWF selain All England dan China Open, menjadi barometer penting dalam peta kekuatan dunia.
PBSI diharapkan segera mengambil langkah konkret dalam pembinaan atlet muda, peningkatan performa pasangan pelapis, serta memperkuat aspek psikologis dan strategi permainan agar dapat kembali bersaing di level tertinggi.






