KEAKRABAN PRABOWO DAN MEGAWATI DIPANDANG SEBAGAI CONTOH KENEGARAWANAN

Fokus, Nasional1017 Dilihat

Hubungan hangat antara Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjadi sorotan saat peringatan Hari Lahir Pancasila. Momen tersebut dinilai mencerminkan kedewasaan politik dan sikap kenegaraan dua tokoh nasional.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menilai kedekatan yang tampak antara Presiden Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri saat Upacara Hari Lahir Pancasila menunjukkan sikap kenegarawanan dari keduanya. Ketua DPP PDIP, Said Abdullah, menyatakan bahwa hubungan Prabowo dan Megawati sudah terjalin erat sejak lama, terutama dalam urusan strategis yang menyangkut ideologi negara.

“Mereka telah menjalin komunikasi sejak dulu, tidak hanya dalam ranah politik, tetapi juga dalam hal-hal mendasar seperti komitmen terhadap Pancasila,” ujar Said melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Senin (2/6).

Said juga mengungkapkan bahwa sebelumnya, pada Senin malam (7/4), Prabowo menyempatkan diri bersilaturahmi ke kediaman Megawati di kawasan Menteng, Jakarta. Menurutnya, kunjungan tersebut layak diapresiasi sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh bangsa. Prabowo disebut juga telah mendatangi sejumlah mantan pemimpin nasional lainnya dalam rangka serupa.

Ia menilai sikap hormat Prabowo itu menjadi modal penting bagi pemerintahan mendatang, khususnya untuk membangun stabilitas politik dan menyukseskan agenda pembangunan nasional.

Dalam pidato saat memimpin upacara di Gedung Pancasila, Presiden Prabowo secara khusus menyebut nama Megawati lebih dahulu sebelum menyapa tokoh lainnya. Said menilai hal itu menunjukkan penghormatan tinggi yang diberikan Prabowo kepada Megawati, baik sebagai Presiden ke-5 RI maupun sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

“Ini bukan sekadar basa-basi politik. Ada penghormatan mendalam yang menunjukkan kedekatan batin dan kesamaan komitmen terhadap masa depan bangsa,” ungkap Said.

Selain itu, dalam pidatonya, Prabowo juga menekankan pentingnya persatuan nasional dalam menghadapi tantangan kebangsaan. Menurut Said, Megawati menyambut positif ajakan tersebut, karena sejalan dengan pandangan dan sikap politik yang selama ini ia pegang.

Said menambahkan, hubungan harmonis antara Prabowo dan Megawati juga mencerminkan tradisi luhur para pendahulu bangsa yang mampu menjaga silaturahmi meski berbeda pandangan politik. Ia mencontohkan hubungan antara Presiden Soekarno dan ulama besar Buya Hamka yang meski sempat bersitegang secara politik, namun Buya Hamka tetap menjadi imam dalam salat jenazah Bung Karno.

“Bangsa ini punya sejarah panjang soal bagaimana pemimpin yang berbeda pandangan tetap bisa menjaga hubungan pribadi dan saling menghormati. Itu yang sekarang ditunjukkan kembali oleh Prabowo dan Megawati,” kata Ketua Badan Anggaran DPR RI tersebut.

Ia meyakini bahwa kesamaan semangat kebangsaan antara Prabowo dan Megawati terjalin karena keduanya memiliki kesadaran historis dan komitmen kuat terhadap masa depan Indonesia. Said menyebut, hanya pemimpin yang telah melewati berbagai dinamika politik dengan sikap arif yang mampu melihat politik sebagai alat untuk membangun, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

“Pandangan yang matang seperti ini hanya muncul dari mereka yang telah menapaki perjalanan panjang dalam pengabdian, dan mampu memisahkan antara urusan politik praktis dengan kepentingan bangsa,” pungkasnya.

Upacara Hari Lahir Pancasila yang digelar Senin pagi di Gedung Pancasila, Jakarta, berlangsung khidmat. Megawati terlihat berdiri di antara Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebelum acara dimulai.

Di sela acara, terekam pula momen hangat antara Prabowo dan Megawati saat berbincang di ruang tunggu. Dalam suasana santai, Prabowo sempat melempar gurauan kepada Megawati yang duduk berhadapan dengannya di sebuah meja oval.

“Ibu agak kurus, Bu. Waduh, luar biasa. Diet Ibu berhasil,” kata Prabowo berseloroh.

Menanggapi candaan itu, Megawati tersenyum dan menjawab, “Oh iya, diet kurus itu.”

Momen kecil tersebut menggambarkan keakraban dua tokoh penting bangsa yang tidak hanya terikat oleh sejarah panjang perpolitikan nasional, tetapi juga oleh rasa saling menghargai dan kedewasaan dalam bersikap.