Saudi Gempur Yaman 28 Kali Balas Serangan Rudal Houthi ke Riyadh

RIYADH — Ketegangan di Yaman kembali memuncak setelah kelompok Houthi melaporkan Angkatan Udara Arab Saudi melancarkan 28 kali serangan udara ke berbagai wilayah Yaman hanya dalam kurun 24 jam, menyasar tiga kegubernuran sekaligus di tengah eskalasi perang saudara yang kembali berkobar antara kelompok pro-Iran tersebut dan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengungkapkan bahwa serangan tersebut menghantam kawasan Taiz, Al-Jawf, dan Marib, menggunakan jet tempur F-15 dan Typhoon yang lepas landas dari pangkalan udara Khamis Mushait dan Taif. Serangan balasan Saudi ini menyusul insiden Sabtu, 19 September 2026, ketika koalisi pimpinan Saudi menyebut Houthi menembakkan rudal balistik ke arah Riyadh saat fajar, bersamaan dengan munculnya kebakaran di dekat bandara internasional ibu kota tersebut.

Bulan ini, Houthi yang sebelumnya telah menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk padat Yaman melancarkan serangan kilat untuk merebut seluruh garis pantai Laut Merah negara itu, sehingga memberi mereka kendali penuh atas Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran strategis dunia. Kelompok tersebut menegaskan pelayaran di selat itu tetap terbuka bagi semua pihak, kecuali kapal-kapal berbendera Saudi.

Di tengah eskalasi ini, sikap Amerika Serikat justru menuai sorotan. Presiden AS Donald Trump mengaku terus menjalin komunikasi dengan Houthi, dan mengklaim kelompok tersebut telah sepakat untuk tidak memerangi Washington. Pernyataan itu ia sampaikan kepada wartawan Trey Yingst, sebagaimana dilansir AFP pada Minggu, 20 September 2026. Klaim serupa pernah dilontarkan Trump saat kunjungannya ke Irlandia pada 12 September, ketika ia menyebut Houthi telah menghubungi pihaknya dan menegaskan tidak ingin berperang melawan AS maupun diserang balik.

Sikap Washington yang enggan terlibat langsung ini sejalan dengan penolakan Trump terhadap permintaan langsung Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, yang sempat menelepon Trump dua kali pada Kamis, 10 September 2026, guna mendesak keterlibatan militer AS menyerang basis Houthi. Sebagai gantinya, Trump hanya menjanjikan dukungan intelijen dan bantuan penentuan target bagi Riyadh, tanpa keterlibatan serangan langsung.

Eskalasi konflik ini bermula awal Juli 2026, ketika Houthi mengklaim pasukannya berhadapan dengan jet tempur Saudi yang berupaya mencegah pesawat sipil Iran mendarat di Bandara Internasional Sanaa. Sejak saat itu, Houthi kembali gencar menyerang pasukan pemerintah Yaman yang diakui internasional sekaligus berbagai target di wilayah Saudi, sambil memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Kerajaan tersebut.

Di tengah tekanan yang terus meningkat terhadap Riyadh, Trump menyampaikan sinyal bahwa dirinya tengah berada dalam tahap pengambilan keputusan penting terkait Iran, negara yang selama ini menjadi sekutu dan pemasok senjata utama Houthi, sekaligus mengisyaratkan kemungkinan perkembangan besar dalam waktu dekat terkait konflik kawasan yang telah berjalan hampir tujuh bulan sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

#Houthi #ArabSaudi #Yaman #Riyadh #PerangSaudara #DonaldTrump #MohammedBinSalman #SelatBabAlMandab #GeopolitikTimurTengah #BeritaInternasional