LOMBA DAYUNG PERAHU DI MUKOMUKO: TRADISI UNIK PERAYAAN LEBARAN

Fokus, Regional46 Dilihat

Setiap tahun, masyarakat Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan berbagai tradisi khas yang memperkaya budaya lokal. Salah satu tradisi yang paling dinantikan adalah lomba dayung perahu yang diadakan di Sungai Teramang, tepatnya di bawah Jembatan Teramang di Jalan Lintas Barat Sumatra.

Sejarah dan Makna Lomba Dayung Perahu

Lomba dayung perahu di Mukomuko bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga simbol kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat setempat. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran. Melalui lomba ini, warga tidak hanya merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga dan memperkuat identitas budaya lokal.

Persiapan Menjelang Lomba

Menjelang pelaksanaan lomba, persiapan dilakukan dengan matang oleh panitia dan peserta. Perahu-perahu tradisional dihias dengan warna-warna cerah dan motif khas daerah, mencerminkan kekayaan seni dan budaya Mukomuko. Para peserta, yang terdiri dari berbagai kalangan usia, berlatih intensif untuk meningkatkan kekompakan dan keterampilan mendayung. Dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar turut menambah semangat para peserta dalam menghadapi perlombaan.

Pelaksanaan Lomba di Sungai Teramang

Pada hari pelaksanaan, suasana di sekitar Sungai Teramang menjadi meriah dengan kehadiran ratusan penonton yang antusias menyaksikan jalannya lomba. Sorak-sorai dan tepuk tangan menggema di sepanjang tepian sungai, memberikan semangat tambahan bagi para pendayung. Lomba ini tidak hanya menampilkan adu kecepatan, tetapi juga menuntut strategi dan kekompakan tim untuk mencapai garis finis terlebih dahulu.

Tradisi lomba dayung perahu ini juga memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata lokal. Banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, tertarik untuk menyaksikan dan bahkan berpartisipasi dalam acara ini. Kehadiran wisatawan tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, terutama bagi pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan, pengrajin suvenir, dan penyedia jasa transportasi. Selain itu, media massa yang meliput acara ini turut membantu mempromosikan Mukomuko sebagai destinasi wisata budaya yang menarik.

Perbandingan dengan Tradisi Serupa di Daerah Lain

Tradisi lomba dayung perahu tidak hanya ditemukan di Mukomuko. Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi serupa juga digelar dengan ciri khas masing-masing. Misalnya, di Kota Tangerang, Festival Perahu Naga di Sungai Cisadane menjadi ajang akulturasi budaya yang memperlihatkan keharmonisan antar etnis. Sementara itu, di Surabaya, lomba dayung perahu naga di Taman Asreaboyo menarik partisipasi tim dari berbagai daerah, menunjukkan semangat sportivitas dan persatuan.

Upaya Pelestarian Tradisi

Untuk memastikan kelangsungan tradisi lomba dayung perahu di Mukomuko, berbagai upaya pelestarian dilakukan oleh pemerintah daerah dan komunitas lokal. Edukasi mengenai pentingnya tradisi ini diajarkan kepada generasi muda melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah dan pelatihan mendayung. Selain itu, dokumentasi dan publikasi mengenai sejarah dan pelaksanaan lomba ini terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya mereka.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meskipun tradisi ini telah berlangsung lama, tantangan tetap ada dalam pelestariannya. Modernisasi dan perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi minat generasi muda untuk terlibat dalam tradisi ini. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dan adaptasi dalam pelaksanaan lomba, seperti mengintegrasikan teknologi atau mengadakan kategori lomba yang lebih variatif, guna menarik minat lebih banyak peserta dan penonton.

Harapannya, tradisi lomba dayung perahu di Mukomuko akan terus berkembang dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat. Dengan dukungan dari berbagai pihak, tradisi ini dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang kaya dan beragam.

SUMBER : RRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *