Teheran – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel agar tidak kembali menyerang negaranya. Peringatan itu dirilis Sabtu (31/10/2026) lewat pernyataan tertulis, saat kekhawatiran akan dimulainya kembali perang di Timur Tengah meningkat.
Pernyataan tersebut menyusul pertemuan Khamenei dengan para komandan militer senior. Mereka adalah Kepala Staf Angkatan Bersenjata Ali Abdollahi, Panglima Militer Amir Hatami, dan Komandan Garda Revolusi Ahmad Vahidi. Ini pertemuan pertama mereka yang dilaporkan. Khamenei belum pernah tampil di depan publik sejak menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS dan Israel pada awal perang.
Menurut pernyataan itu, Khamenei memerintahkan setiap ancaman dibalas dengan respons segera, berdampak, dan “tidak terbatas secara geografis”. Jika musuh kembali menyerang secara militer atau teror, katanya, angkatan bersenjata dan rakyat Iran yang menentukan waktu dan syarat berakhirnya serangan. Ia juga meminta daftar target Iran diperbarui agar mencakup seluruh aset berwujud maupun tidak berwujud milik “musuh Amerika dan Zionis”. Menurut Arab News, Khamenei menyebut para komandan melaporkan kesiapan tinggi di pesisir Teluk, kawasan Selat Hormuz dan Teluk Oman, serta perbatasan barat laut dan tenggara.
Perang bermula pada 28 Februari 2026, saat AS dan Israel menyerang Iran. Teheran lalu membalas dengan menyerang aset Amerika di sejumlah negara kawasan. Ancaman serangan baru muncul belakangan. Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut mengancam aksi militer setelah pemilu di negara masing-masing. Netanyahu menyebut ada “peluang bersejarah” untuk menjatuhkan pemerintah Iran. AS akan menggelar pemilu sela pada Selasa (3/11/2026). Israel baru memilih pekan ini dan belum membentuk pemerintahan baru.
Di Atlanta, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Trump belum membuat keputusan soal serangan baru. Ia menambahkan Washington dapat mencapai tujuan militernya jika menghendaki, tetapi Trump disebut lebih memilih jalur diplomasi.
Upaya diplomatik berlanjut. Delegasi Qatar tiba di Teheran pada Jumat (30/10/2026) dan berunding lebih dari 12 jam. Menurut Reuters, tim perunding Iran kemudian berangkat ke Doha pada Sabtu untuk bertemu para mediator. Qatar dan Pakistan memediasi kedua pihak, tetapi belum ada kesepakatan bertahan lama. Seorang pejabat menyebut Qatar mengusulkan rencana tujuh hari untuk membangun kepercayaan.
Iran juga dilaporkan menerima surat dari Wakil Presiden AS JD Vance yang ditujukan kepada Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Rezaei mengaku sudah membaca surat itu tetapi belum menjawab. Ia menilai nada Washington berubah. Menlu Iran Abbas Araghchi menyebut surat itu langkah positif dan sedang dikaji. Namun, laporan Fox News mengutip Araghchi yang menyatakan Iran belum perlu bertemu pihak Amerika. Sementara itu, Trump menyebut surat tersebut hanya untuk membantu masuknya pasokan medis ke Iran.
Hingga kini, tak satu pun pihak mengumumkan keputusan final soal serangan baru atau kesepakatan damai.
#MojtabaKhamenei #Iran #AmerikaSerikat #Israel #PerangIran #Diplomasi #SelatHormuz #MarcoRubio #Qatar #BeritaInternasional












