INDONESIA DAN ASEAN BERSATU HADAPI TARIF IMPOR AS YANG MEMBEBANI

Ekonomi, Fokus9 Dilihat

Pemerintah Indonesia sedang mengintensifkan komunikasi dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan berkoordinasi dengan negara-negara ASEAN untuk merespons pengenaan tarif impor baru oleh AS yang berdampak luas pada negara-negara pengekspor, termasuk Indonesia. Langkah ini diambil setelah pengumuman Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4/2025) mengenai tarif impor yang signifikan bagi hampir semua negara mitra dagang AS.​

Dalam pernyataan pers yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI pada Kamis (3/4/2025), Indonesia mengumumkan rencana pengiriman delegasi tingkat tinggi ke Washington DC untuk melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah AS. Delegasi ini akan membawa berbagai langkah strategis yang telah disiapkan pemerintah Indonesia untuk menanggapi isu-isu yang diangkat oleh AS, terutama yang tercantum dalam laporan National Trade Estimate (NTE) 2025 yang diterbitkan oleh US Trade Representative.​

Di tingkat regional, Indonesia telah berkomunikasi dengan Malaysia selaku Ketua ASEAN tahun ini untuk merundingkan langkah bersama dalam menghadapi pengenaan tarif AS. Seluruh 10 negara anggota ASEAN terdampak oleh kebijakan tarif ini dengan besaran yang berbeda-beda. Negara-negara seperti Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Malaysia masing-masing dikenakan tarif impor ke AS sebesar 49%, 46%, 36%, dan 24%. Situasi ini mendorong ASEAN untuk memperkuat solidaritas dan mencari solusi kolektif dalam menghadapi tantangan perdagangan global ini.​

Pengenaan tarif impor oleh AS telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan negara-negara ASEAN. Vietnam, Thailand, dan Kamboja memperingatkan potensi dampak ekonomi yang signifikan, termasuk hilangnya lapangan kerja dan terganggunya perdagangan. Kamboja mengkritik langkah AS sebagai tindakan yang tidak masuk akal dan menyoroti dampak negatifnya terhadap konsumen AS yang akan menghadapi harga yang lebih tinggi. Singapura mempertimbangkan untuk merevisi proyeksi ekonominya ke bawah, sementara Malaysia berencana fokus pada perjanjian perdagangan multilateral dan diversifikasi ekspor. Indonesia melihat situasi ini sebagai momentum untuk memperkuat kerja sama dengan kelompok-kelompok yang dipimpin oleh China seperti BRICS dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). ​

Peringatan dari Menteri Keuangan Indonesia

Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, telah memperingatkan bahwa kebijakan tarif impor tinggi yang diterapkan oleh AS akan berdampak luas pada kawasan Asia Tenggara. Beliau menekankan bahwa tidak hanya China, tetapi negara-negara ASEAN seperti Vietnam dan lainnya juga menjadi fokus dari pengenaan tarif ini. Sri Mulyani mengingatkan bahwa kebijakan proteksionis AS dapat mempengaruhi semua mitra dagang yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. Beliau juga menyoroti bahwa kebijakan fiskal AS yang ekspansif dan penguatan dolar AS dapat menambah tantangan bagi perekonomian global. ​

Reaksi dan Strategi Negara-Negara ASEAN

Negara-negara ASEAN merespons kebijakan tarif AS dengan berbagai strategi:​

Malaysia berupaya membuka jaringan perdagangan yang lebih luas dan memperluas hubungan dagang dengan China, Rusia, dan Brasil. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menekankan pendekatan perdagangan yang terdiversifikasi untuk mengurangi ketergantungan pada AS.​

Singapura menghadapi risiko signifikan dari perang tarif antara AS dan China. Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan memperingatkan tantangan yang akan datang dan menekankan pentingnya menjaga stabilitas serta menarik investasi.​

Filipina mengambil langkah proaktif dengan bekerja sama dengan pemerintahan Trump untuk mencari solusi yang saling menguntungkan, termasuk perjanjian perdagangan preferensial. Menteri Perdagangan dan Industri Cristina Roque menekankan pentingnya perdagangan bebas dan terbuka untuk pertumbuhan ekonomi Filipina.​

Thailand mempertimbangkan impor etana dari AS sebagai upaya untuk menyeimbangkan neraca perdagangannya dan mengurangi potensi dampak negatif dari tarif AS.​

Vietnam bersiap menghadapi dampak dari tarif AS terhadap barang-barang China dan menegaskan kesiapan untuk terlibat dengan AS dalam kerangka hukum internasional dan komitmen perdagangan. Perdana Menteri Pham Minh Chinh menginstruksikan kabinetnya untuk mempersiapkan kemungkinan terjadinya perang dagang global. ​
US-ASEAN Business Council

Analisis Dampak Ekonomi Global

Albert Park, Kepala Ekonom Bank Pembangunan Asia, memperingatkan bahwa tarif impor baru yang diterapkan oleh AS dapat secara signifikan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS dan global. Negara-negara seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja menghadapi tarif tinggi yang dapat menghambat pasar ekspor mereka. China, yang sudah menghadapi tantangan ekonomi, kini menghadapi tarif gabungan sebesar 54%, yang dapat menghambat pemulihan ekonominya yang bergantung pada ekspor dan mendorong pergeseran ke konsumsi domestik serta mitra dagang alternatif. ​

Pengenaan tarif impor oleh AS telah menciptakan tantangan signifikan bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Melalui diplomasi aktif, negosiasi langsung, dan kerja sama regional, Indonesia dan ASEAN berupaya merespons kebijakan proteksionis ini dengan strategi yang terkoordinasi dan efektif. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memitigasi dampak negatif terhadap perekonomian nasional dan regional serta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *